Minggu, 23 Juli 2017

Perbedaan Kebahagiaan dan Kesejahteraan

Menurut saya istilah "kebahagiaan" dan "kesejahteraan" adalah dua kata yang hampir sama dan saling beririsan baik dari segi makna kata, maupun konteksnya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan berarti, "kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin." Sedangkan kesejahteraan berarti, "hal atau keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketenteraman;- kesehatan jiwa; - keadaan sejahtera masyarakat. Dalam kedua pengertian di atas sama-sama mencakup aspek kesenangan batin. Yang berbeda adalah kebahagiaan lebih mengintegralkan kesenangan lahir dan batin serta dimulai dari diri sendiri. Di sisi lain, kesejahteraan lebih berfokus pada keamanan dan keselamatan yang merupakan kondisi yang bergantung dari lingkungan.

Jika ditinjau dari definisi menurut Oxford Dictionary, kita dapat menerjemahkan kata "kebahagiaan" dan "kesejahteraan" menjadi "happiness" dan "prosperity". Happyness berarti, "state of being happy" yang artinya "keadaan bahagia". Sementara makna bahagia (happy) berarti, "feeling or showing pleasure or contentment" yang berarti "merasakan atau menunjukkan kesenangan atau kepuasan". Sedangkan Prosperity berarti, "the state of being prosperous." yang berarti "keadaan sejahtera". Sementara makna sejahtera (prosperous) berarti, "berhasil dalam hal material; berkembang secara finansial." Dilihat dari definisinya, kebahagiaan bermakna lebih luas daripada kesejahteraan. Kebahagiaan (happyness) dimaknai sebagai kesenangan atau kepuasan secara umum, baik lahir maupun batin. Aspek kesenangan dan kepuasan pun sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri dan kebersyukuran seseorang. Sedangkan kesejahteraan (prosperity) lebih mengarah kepada hal materialistis dan finansial. Ini berarti untuk menjadi sejahtera, diperlukan stimulus eksternal (materi).

Dari dua perbandingan pengertian menurut KBBI dan Oxford Dictionary di atas, terdapat kesamaan definisi bahwa kebahagiaan lebih bersifat internal, mencakup aspek penerimaan diri dan kebersyukuran, serta mengintegralkan aspek lahiriah dan batin seseorang. Sementara kesejahteraan harus didapatkan melalui stimulus eksternal seperti keamanan, keselamatan, pemenuhan materi dan finansial.

Schimmel (2009) menjelaskan bahwa kebahagiaan merupakan penilaian individu terhadap keseluruhan kualitas hidupnya. Menurut Schimmel (2009), kebahagiaan terkadang juga disebut sebagai kesejahteraan subyektif (subjective well being). Sementara menurut Diener & Ryan (2009), kebahagiaan mengacu kepada emosi yang bersifat positif, sedangkan subjective well being mencakup emosi yang positif maupun negatif. Namun demikian kedua istilah tersebut menunjukkan penilaian individu terhadap kualitas hidupnya. Selanjutnya Diener dkk (1999), menyatakan bahwa kebahagiaan ataupun kesejahteraan subyektif dapat dilihat dari adanya emosi yang menyenangkan, emosi yang tidak menyenangkan, kepuasan hidup secara umum, dan kepuasan pada ranah tertentu. Dari berbagai teori tentang kebahagiaan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan merupakan penilaian seseorang akan kualitas hidupnya yang ditandai dengan adanya emosi yang menyenangkan dan rasa puas dengan kehidupannya.
aaan (Elfida, 2008). 

Menurut Al-Farabi (dalam Zahidah & Raihanah, 2011) kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan dan berperilaku sesuai dengan keyakinan. Hal ini dilakukan dengan cara jiwa yang terlepas dari tuntutan hawa nafsu, melaksanakan amanah dan janji, menunaikan tugas-tugas dengan sempurna, meninggalkan perkara yang diharamkan oleh Allah SWT. Demikian jiwa akan menjadi bahagia apabila seseorang melaksanakan semua perkara yang mulia dan menjauhi perkara yang dilarang (Zahidah & Raihanah, 2011). Kebahagiaan umumnya mengacu pada emosi positif yang dirasakan individu serta aktivitas positif yang disukai oleh indi- vidu (Seligman, 2005). Menurut Biswas, Di- ener dan Dean (2007) kebahagiaan berupa kualitas dari keseluruhan hidup manusia yang membuat kehidupan menjadi baik secara kes- eluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi, pendapatan yang leb- ih tinggi dan tempat kerja yang baik. Individu yang memiliki kebahagiaan tinggi akan merasakan bahwa pekerjaan, perkawinan, dan area lain di dalam kehidupan terasa memuaskan (Elfida, 2008). Demikian kebahagiaan itu sangat relatif antara satu dengan yang lain. Ukuran kebahagiaan sangat relatif antara individu yang satu dengan yang lain. Adakala individu menjadikan kecukupan materi sebagai ukuran kebahagiaan. 

 Bila saya boleh berpendapat, menurut saya kebahagiaan dan kesejahteraan gampang-gampang sulit untuk didefinisikan dan dibedakan. Kebahagiaan menurut saya adalah kondisi batin yang senang, puas akan kehidupannya, dan memiliki rasa syukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan. Kebahagiaan lebih bersifat internal pada diri seseorang dan sangat erat kaitannya dengan penerimaan diri dan rasa syukurnya pada Tuhan. Kebahagiaan dapat diperoleh tergantung dari persepsinya terhadap apa yang ia punya. Jika seseorang mampu mempersepsikan dunianya sebagai hal-hal yang membahagiakan dan menerima apa adanya dengan penuh kesyukuran, maka ia adalah orang bahagia. Sebagai contoh jika seorang yang berpenghasilan pas-pasan dan hidupnya terlilit hutang, ia tidak terlalu memusingkan kekurangannya. Ia akan berusaha melihat sisi baik hidupnya untuk disyukuri seperti misalnya anak-anak yang baik dan solehah, isteri yang setia menemani, dan mampu makan 3x sehari.

Sedangkan kesejahteraan lebih luas dan lebih kondisional maknanya daripada kebahagiaan. Kesejahteraan meliputi kondisi ekonomi yang mencukupi, kesehatan fisik, dan kepuasan hidup. Memang kepuasan hidup dan rasa syukur adalah bagian dari kesejahteraan. Namun haruslah didukung oleh kebutuhan materi yang terpenuhi. Jika tidak, seseorang hanya akan menjadi bahagia namun bukan sejahtera. Hal lain yang membedakan adalah jika bahagia sangat membutuhkan rasa syukur dan penerimaan diri yang dimulai dari diri sendiri, namun sejahtera tidak terlalu membutuhkan hal tersebut walaupun tetap membutuhkan, hanya saja kualitas syukur dan penerimaan diri yang tinggi tidak menjamin seseorang sejahtera. Aspek lain yang harus diperhatikan adalah kondisi sekitar orang tersebut apakah menjamin kebutuhan materinya terpenuhi, kondisinya aman tentram, dan jasmani serta orohaninya? Itulah yang harus dimiliki seseorang untuk sejahtera di samping rasa syukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar