Dear para orang tua,
Apakah kalian pernah merasa jengkel karena 'kenakalan' anak-anak kalian?
Ya, sering.
Apakah kalian pernah merasa lelah karena si kecil sukar sekali diatur?
Ya, sering
Apakah kalian pernah marah bahkan memukulnya karena perilakunya yang 'kurang baik'?
Apakah kalian pernah menghujat dan memaki kesalahan yang dibuatnya?
Saya harap dua pertanyaan terakhir jawabannya 'tidak'.
Ketahuilah, setiap anak itu istimewa. Every child is special.
Mereka seperti bintang yang jatuh ke bumid. Like stars on the earth.
Tinggal tugas kita menemukan sinar dari bintang tersebut
Sinar yang senantiasa terbinar
Terpancar oleh cahaya cinta dan kasih sayang orang tua.
Selasa, 15 Agustus 2017
Minggu, 06 Agustus 2017
Ikhlas
Sebuah 'skill' yg mungkin karena terlalu 'sederhana', membuat 'skill' tsb amat sulit dipelajari
Sesederhana surat Al-Ikhlas yang tak ada kata ikhlas namun maknanya memurnikan keesaan Allah
Perasaan ujub, riya, dan kemunafikan diri selalu jadi bayang-bayang.
Terkadang ridho Allah terganti oleh anggapan baik dari manusia dalam mensetting niat
Sungguh luar biasa seseorang yang hanya berharap ridho Allah
Setiap perbuatan adalah ungkapan terima kasih atas nikmatNya
Rasullullah Sholallahu'alaihi Wassalam diantara salah satu doanya ialah,
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)
Sesederhana surat Al-Ikhlas yang tak ada kata ikhlas namun maknanya memurnikan keesaan Allah
Perasaan ujub, riya, dan kemunafikan diri selalu jadi bayang-bayang.
Terkadang ridho Allah terganti oleh anggapan baik dari manusia dalam mensetting niat
Sungguh luar biasa seseorang yang hanya berharap ridho Allah
Setiap perbuatan adalah ungkapan terima kasih atas nikmatNya
Rasullullah Sholallahu'alaihi Wassalam diantara salah satu doanya ialah,
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)
YOLO vs YODO
Ada yang bilang "You Only Live Once"
hemm tapi ingat, "You Only Die Once & Then You'll Live Forever"
hemm tapi ingat, "You Only Die Once & Then You'll Live Forever"
Yuk kita bersatu, wahai ummat terbaik?
#savealaqsa
Negara2 Eropa yang beragam mampu bersatu di bawah Uni Eropa. Bekerjasama dalam bidang ekonomi, pertahanan, dan jaminan keamanan warga negara di negara lain. Mata uang sama; masuk ke negara lain mudah, cukup menunjukka KTP; Jika ada salah satu anggota yang diserang, NATO siap menurunkan tentara; bahkan ada parlemen bersama yang saling bertukar pendapat dan aspirasi.
Sedangkan negeri2 Muslim yang dahulu bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah terpecah menjadi negara2 kecil, terkurung oleh sekat2 nasionalisme, masih saling 'guntreng' satu sama lain, bahkan hanya menjadi pengekor peradaban Barat.
Mengapa negeri2 kaum Muslim tidak bisa bersatu? Kembali kepada fitrah dan 'habitat' aslinya. Menerapkan Islam secara kaaffah yang telah mengangkat derajat para pemeluknya terdahulu dari masyarakat jahiliyah menjadi sebuah peradaban agung. Andai saja bisa, maka tak perlu kita melihat pembantaian kaum Muslim minoritas dan penistaan tempat suci. Tak hanya itu, masalah multi-dimensional seperti kesenjangan sosial dan pelecehan sosial insyaAllah bisa teratasi.
Wallahu'alam bishawab
Negara2 Eropa yang beragam mampu bersatu di bawah Uni Eropa. Bekerjasama dalam bidang ekonomi, pertahanan, dan jaminan keamanan warga negara di negara lain. Mata uang sama; masuk ke negara lain mudah, cukup menunjukka KTP; Jika ada salah satu anggota yang diserang, NATO siap menurunkan tentara; bahkan ada parlemen bersama yang saling bertukar pendapat dan aspirasi.
Sedangkan negeri2 Muslim yang dahulu bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah terpecah menjadi negara2 kecil, terkurung oleh sekat2 nasionalisme, masih saling 'guntreng' satu sama lain, bahkan hanya menjadi pengekor peradaban Barat.
Mengapa negeri2 kaum Muslim tidak bisa bersatu? Kembali kepada fitrah dan 'habitat' aslinya. Menerapkan Islam secara kaaffah yang telah mengangkat derajat para pemeluknya terdahulu dari masyarakat jahiliyah menjadi sebuah peradaban agung. Andai saja bisa, maka tak perlu kita melihat pembantaian kaum Muslim minoritas dan penistaan tempat suci. Tak hanya itu, masalah multi-dimensional seperti kesenjangan sosial dan pelecehan sosial insyaAllah bisa teratasi.
Wallahu'alam bishawab
Solusi Untuk #savealaqsa
#savealaqsa menjadi trending topic dunia sekarang. Alhamdulillah ummat ini masih merasa geram saat tempat sucinya hendak dibumihanguskan oleh zionis dan marah saat aktivitas peribadatan di Masjid Al-Aqsa dipersekusi. Alhamdulillah ghirah keislaman yang insyaAllah berasal dari dorongan aqidah masih tertanam dalam diri ummat.
Mari kita bernostalgia, mengenang beberapa penggalan kisah manis saat ummat ini dahulu (masih) bersatu.
Jangankan pembantaian jutaan ummat muslim minoritas di pelbagai belahan dunia, kehormatan seorang muslimah yang jadi bahan olokan tentara Romawi di Amuria (sekarang Turki) membuat ummat sangat marah sehingga mengerahkan tentara yang hulunya di Amuria dan memanjang hingga ekornya berada di Baghdad.
Sekarang melihat Al-Liwa dan Ar-Royah yang bertuliskan lafadz Tauhid, tak sedikit ummat yang merasa takut bahkan fobia. Menisbatkan bendera dan panji Rasulullah SAW dengan simbol terorisme dan radikalisme. Padahal dahulu bendera dan panji tersebutlah yang membuat Mushab bin Umair memegangnya hingga syahid di medang perang walaupun kehilangan tangan dan kaki.
Dan adakah kita lupa bagaimana kelembutan Salahudin Al-Ayyubi saat memfutuhat Baitul Maqdis, membiarkan orang-orang non-Islam untuk hidup damai di bawah naungan Islam padahal saat tentara Salibis menaklukkan Baitul Maqdis, mereka membuat ummat muslim seperti hewan qurban yang disembelih.
Sungguh kita merindu zaman keemasan peradaban agung ini. Berdiri selama 13 abad. Wilayah terbentang dari Andalusia (sekarang Spnyaol) hingga Nusantara. Menjadi pemimpin peradaban dan mensejahterakan seluruh masyarakat di dalamnya.
Saat ummat paham akan jatidirinya. Syariat menjadi standar baik-buruk dan benar-salah dalam bertindak. Ridho Allah satu-satunya tujuan hidup.
Saat belum terkukung sekat-sekat nasionalisme dan menjadikan agaman ini sebagai ukhuwah pemersatu, pelebur segala perbedaan. Namun tetap hidup rukun dan penuh toleran dengan ummat beragama lain.
Tak ada habisnya mengingat masa-masa dahulu. Dahulu sekali dan mungkin hanya segelintir orang yang (mau) mengingatnya. Namun itulah bukti saat agama ini diterapkan dengan sempurna dalam semua sendiri kehidupan, maka Allah senantiasa menurunkan berkah dari langit.
Jangankan membebaskan Al-Aqsha, peradaban besar seperti Persia dan Romawi pun mampu kita taklukkan. Dengan syarat, kita bersatu, menjadikan Islam sebagai inspirasi kehidupan, dan menerapkannya secara paripurna.
Wallahu'alam bishawab
Mari kita bernostalgia, mengenang beberapa penggalan kisah manis saat ummat ini dahulu (masih) bersatu.
Jangankan pembantaian jutaan ummat muslim minoritas di pelbagai belahan dunia, kehormatan seorang muslimah yang jadi bahan olokan tentara Romawi di Amuria (sekarang Turki) membuat ummat sangat marah sehingga mengerahkan tentara yang hulunya di Amuria dan memanjang hingga ekornya berada di Baghdad.
Sekarang melihat Al-Liwa dan Ar-Royah yang bertuliskan lafadz Tauhid, tak sedikit ummat yang merasa takut bahkan fobia. Menisbatkan bendera dan panji Rasulullah SAW dengan simbol terorisme dan radikalisme. Padahal dahulu bendera dan panji tersebutlah yang membuat Mushab bin Umair memegangnya hingga syahid di medang perang walaupun kehilangan tangan dan kaki.
Dan adakah kita lupa bagaimana kelembutan Salahudin Al-Ayyubi saat memfutuhat Baitul Maqdis, membiarkan orang-orang non-Islam untuk hidup damai di bawah naungan Islam padahal saat tentara Salibis menaklukkan Baitul Maqdis, mereka membuat ummat muslim seperti hewan qurban yang disembelih.
Sungguh kita merindu zaman keemasan peradaban agung ini. Berdiri selama 13 abad. Wilayah terbentang dari Andalusia (sekarang Spnyaol) hingga Nusantara. Menjadi pemimpin peradaban dan mensejahterakan seluruh masyarakat di dalamnya.
Saat ummat paham akan jatidirinya. Syariat menjadi standar baik-buruk dan benar-salah dalam bertindak. Ridho Allah satu-satunya tujuan hidup.
Saat belum terkukung sekat-sekat nasionalisme dan menjadikan agaman ini sebagai ukhuwah pemersatu, pelebur segala perbedaan. Namun tetap hidup rukun dan penuh toleran dengan ummat beragama lain.
Tak ada habisnya mengingat masa-masa dahulu. Dahulu sekali dan mungkin hanya segelintir orang yang (mau) mengingatnya. Namun itulah bukti saat agama ini diterapkan dengan sempurna dalam semua sendiri kehidupan, maka Allah senantiasa menurunkan berkah dari langit.
Jangankan membebaskan Al-Aqsha, peradaban besar seperti Persia dan Romawi pun mampu kita taklukkan. Dengan syarat, kita bersatu, menjadikan Islam sebagai inspirasi kehidupan, dan menerapkannya secara paripurna.
Wallahu'alam bishawab
Keadilan Perjanjian Allah
Jika kekuasaan dan uang dapat membeli keadilan di dunia, lalu bagaimana kita menghadapi pengadilan Allah di yaumul hisab nanti yang bahkan anggota tubuh kita sendiri bersaksi dengan sejujur-jujurnya?
Terkadang
Terkadang lisan ini khilaf dalam bertutur
Terkadang hawa ini mengkhianati istiqomah hijrah
Terkadang syahwat ini menodai kesucian fitrahMu
Dan tentunya kemunafikan diri selalu jadi bayang-bayang setiap ucapan dan perbuatan
Namun jangan sampai hati terlena oleh nikmat sesaat dunia
Terpaut jauh ku dari jalan yang Engkau ridhoi
Tenggelam dalam fatamorgana hedonistik
Terlena oleh kenyamanan bersikap pragmatis
Sehingga mematikan keyakinan akan janjiMu dan bisyarah rasulMu
Melumpuhkan idealisme tuk tetap berjuang
Karena kemenangan hanya berjarak antara kening dan sajadah
Realisasi janjiMu hanya perlu dilihat dari pemaknaan yang lebih dalam
To see beyond the eyes can see
Terkadang hawa ini mengkhianati istiqomah hijrah
Terkadang syahwat ini menodai kesucian fitrahMu
Dan tentunya kemunafikan diri selalu jadi bayang-bayang setiap ucapan dan perbuatan
Namun jangan sampai hati terlena oleh nikmat sesaat dunia
Terpaut jauh ku dari jalan yang Engkau ridhoi
Tenggelam dalam fatamorgana hedonistik
Terlena oleh kenyamanan bersikap pragmatis
Sehingga mematikan keyakinan akan janjiMu dan bisyarah rasulMu
Melumpuhkan idealisme tuk tetap berjuang
Karena kemenangan hanya berjarak antara kening dan sajadah
Realisasi janjiMu hanya perlu dilihat dari pemaknaan yang lebih dalam
To see beyond the eyes can see
Kebebasan
"Saat manusia merasa dirinya bebas, itulah awal ia akan terjebak pada ketergantungan thd sesuatu. Dan akhirnya menyadari bahwa ia bukanlah jiwa yang bebas"
Langganan:
Postingan (Atom)