Rabu, 20 Desember 2017

(Masih) menjadi misteri ilahi

Manusia hanya bisa berharap dan berencana. Namun tetap pada akhirnya,  Allah lah sebaik-baiknya penyusun rencana. Kita bisa mematok target. Namun bila Allah berkehendak lain, apa daya kita?

Kita hanyalah seorang makhluk yang senantiasa berikhtiar. Meluruskan niat karenaNya, bermunajat berharap ridhoNya. Kita berdo'a semoga Allah senantiasa merahmati setiap langkah kaki kita. Menjadikan setiap aktivitas kita sebagai ibadah.

Ku rasa ada suatu hal yang benar-benar menjadi kuasa Allah. Ini soal cinta. Ku tak bercanda soal ini. Ini memang benar-benar membingungkan. Terkadang ku tak pahami bagaimana Allah menyusun rencanaNya tentang cinta.

Ku yang beberapa kali 'menargetkan' dan berharap bahwa fulanah, fulani, dan fulanu akan menjadi pendampingku. Jadi teman setia tuk sama-sama capai ridhoNya. Tapi apa daya ku hanya seorang makhluk yg hanya bisa berencana.

Kini ku yakini bahwa semuanya sudah Engkau atur, yaa Allah. Ku serahkan semuanya pada Engkau. Engkau lah Sang Maha Cinta, Maha Membolak-balikkan Hati.
Engkau lah Allah, tempat semua makhluk bergantung.

Kekhawatiran

Ada sebuah kekhawatiran
Entah ini kekhawatiran yg berdasar atau tidak

Tiap langkah kaki ku tapaki
Tiap detik yg terus bergulir
Ku masih khawatir
Dan mungkin tetap begitu

Khawatir apa yang ku tuju dan ku harapkan tak tergapai
Yang ada hanya kesia-siaan dalam berupaya
Niat hati berjuang di jalanNya, berharap ridhoNya
Namun apa daya, ku tak cukup kuat tuk menggapainya

Hati ini takut akan kemunafikan
Hal yg selalu membayangi dikala ku berjuang
Syiarkan Islam, dakwah bi al-hikmah
Namun berujung ujub dan riya

Senin, 30 Oktober 2017

Penerapan 'Marshmellow Effect' dalam Berinvestasi Pahala (Part 1)

Pada tahun 1960an diadakan penelitian yang dipimpin oleh Walter Mischel, professor Psikologi dari Universitas Stanford, Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontrol diri (self-control) pada anak-anak usia dini terhadap sebuah godaan: akankah mereka bisa menahan godaan ataukan mereka tergoda dengan kenikmatan sesaat? Tak hanya itu, penelitian ini berusaha mencari korelasi antara self control pada masa kanak-kanak dan kesuksesan hidup saat dewasa.

Penelitian ini diikuti oleh 50 anak berusia 3-5 tahun yang ditempatkan ke dalam 50 ruangan terpisah. Dalam setiap ruangan,terpasang kamera tersembunyi dan anak-anak tersebut dihadapkan dengan sebuah marshmallow --sebuah godaan yang sulit untuk ditahan bagi anak-anak. Peneliti menekankan pada anak-anak bahwa tidak ada siapapun di ruangan ini kecuali peneliti dan anak itu sendiri. Lalu peneliti berkata "Marshmallow ini milikmu. Aku akan pergi selama 5-10 menit. Kamu punya dua pilihan: Kamu makan marshmallow ini langsung atau kamu menunggu saya kembali dan jika marshmallow-mu masih utuh, aku akan memberimu tambahan 2 marshmallow."

Peneliti membagi anak-anak ke dalam tiga kelompok berdasarkan respon perilaku dari anak-anak tersebut. Kelompok pertama terdiri dari 60% - 70% anak-anak yang menjadi partisipan. Anak-anak tersebut memakan marshmellow sebelum peneliti kembali. Kelompok kedua terdiri dari sekitar 20% anak-anak. Anak-anak tersebut berbuat 'curang'. Ada yang menjilati marshmallow lalu meletakkannya lagi. Ada yang mengambil sedikit bagian dari marshmallow kemudian memakannya. Saat peneliti kembali ke dalam ruangan, mereka berkata, "Aku belum menyentuhnya, berikan aku dua marshmallow lagi". Kelompok ketiga terdiri dari sekitar 8% - 10% anak-anak. Mereka tidak memakan bahkan menyentuh marshmallow dan mereka diberi hadiah dua marshmellow.

Kelompok pertama dinilai memiliki kontrol diri yang rendah. Mereka tidak tahan terhadap godaan. Mereka lebih milih untuk menikmati kenikmatan sesaat daripada 'bersusah-payah' menunggu untuk kenikmatan yang lebih besar di masa mendatang. Sedangkan kelompok kedua berbuat curang dengan memanfaatkan 'ketidak-adaan' siapapun dalam ruangan. Mereka berpikir tidak ada yang melihat mereka, maka tidak masalah jika mereka sedikit menikmati marshmallow, yang penting tidak ada yang tahu apa yang mereka perbuat. Dan pada akhirnya mereka mendapatkan 2 marshmallow tambahan. Kemudian kelompok ketiga adalah kelompok yang mempunya kontrol diri yang tinggi. Mereka bisa mengontrol diri mereka untuk menahan godaan yang ada. Mereka menyadari bahwa ada kenikmatan yang jauh lebih besar di masa mendatang daripada harus terlena dengan godaan berupa kenikmatan sesaat. Mereka hanya harus sedikit lebih bersabar.

Sekitar 40 tahun setelah penelitian ini dilakukan, peneliti ingin tahu bagaimana nasib para partisipan yang dahulu pernah mengikuti penelitian. Sebagian besar anak-anak dalam kelompok pertama bernasib kurang baik. Mereka seringkali berganti pekerjaan, karir akademiknya terhambat, pernikahan mereka berantakan: nikah-cerai, nikah-cerai. Diduga kontrol diri yang rendah saat kanak-kanak membuat mereka kurang tekun dalam berkerja keras dan lebih memilih gaya hidup hedonistik yang akhirnya membuat mereka sengsara.

Para partisipan dalam kelompok dua kebanyakan dari mereka memperoleh keunggulan pada saat awal-awal mencoba sesuatu. Namun saat sesuatu itu mereka tekuni untuk jangka waktu lama, performanya cenderung menurun. Hal ini diperkirakan karena perbuatan 'curang' semasa eksperimen dahulu. Kebanyakan dari mereka sering berlaku curang dalam berbagai bidang yang ditekuni. Saat bersekolah, mereka sering menyontek, dalam dunia kerja tak jarang mereka korupsi, dan dalam bermasyarakat mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan.

Namun hal berbeda tampak pada mayoritas anggota kelompok tiga. Kelompok yang dianggap memiliki kontrol diri paling tinggi dibanding kelompok yang lain dan diprediksi akan meraih kesuksesan dalam hidup. Mereka meraih kesuksesan dan kesejahteraan dalam hidup. Mereka sukses dalam karir pekerjaannya dan membangun keluarga yang bahagia. Hal ini dikarenakan mereka senantiasa memikirkan mengenai keberhasilan di masa depan harus dicapai dengan kerja keras di masa kini. Mengenyampingkan kenikmatan sesaat berarti mengupayakan untuk kesuksesan masa depan.


Minggu, 29 Oktober 2017

Pengemban Dakwah terus Bicara Nikah: Kemunduran Perjuangan Ummat

Dalam suatu kajian mengenai nidzhomul ijtima'i (sistem pergaulan dalam Islam), Ustadz Afa Silmi Hakim berkata bahwa para pengemban dakwah yang terus memikirkan tentang pernikahan, mengindikasikan kemerosotan berpikir dan kemunduran perjuangan dakwah. Saya paham maksud beliau. Bukan berarti menikah menghambat dakwah, bahkan rumah tangga yang samawa adalah gerbang awal generasi Islami dibangun dan menambah semangat dakwah berkat do'a suami/istri yang shalih/shalihah. Namun yang dimaksud dengan memikirkan pernikahan menyebabkan kemunduran umat adalah bahwa waktu produktif yang harusnya dihabiskan oleh pengemban dakwah untuk belajar, menambah tsaqofah Islam, berinteraksi dengan ummat dan mendakwahi ummat, dihabiskan dengan melakukan hal yang sia-sia: Terus mengkhayalkan pernikahan tanpa upaya memantaskan diri.

Menikah memang sebuah ibadah yang menyempurnakan agama. Menikah disunahkan oleh rasul SAW karena beberapa hikmah darinya seperti: lebih menjaga pandangan, hati, dan kemaluan; menjadi pintu rezeki terutama melalui anak-anak; menentramkan hati dan pikiran karena rasa sayang pada suami/istri yang dilandasi kecintaan pada Allah. Namun perlu diingat bahwa dalam pernikahan, kita memikul tanggung-jawab yang tak mudah terutama seorang suami yang bertanggung-jawab penuh atas nafkah lahir-batin sang istri, termasuk akhlak dan ketaatan pada Allah sang istri yang akan suami pertanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak.

Tanggung-jawab yang berat dalam pernikahan membuat siapa pun yang hendak menikah senantiasa memantaskan diri untuk membangun keluarga samawa. Bagaimana bisa membangun keluarga samawa dengan kualitas keimanan yang masih rendah? Bagaimana mungkin menjadi imam yang baik bagi keluarga sedangkan bukan Allah lah yang paling kita cintai? Bagaimana menafkahi keluarga lahir-batin bila masih sering berleha-leha dan bermalas-malasan? Maka, sebelum kita berpikir "Gimana ya nanti nikah?" , "Kira2 siapa ya jodoh yang ditakdirkan Allah buat saya?" dan pertanyaan2 lain seputar pernikahan, alangkah lebih baik kita bertanya pada diri sendiri, "Seberapa dekatkah saya pada Allah?" , "Seberapa besarkan\h rasa cinta saya pada Allah?" , "Sudahkah saya taat dan patuh sepenuhnya pada aturan Allah?"

#Nikah #Menikah #Pernikahan #Islam #Pergaulan #PergaulanIslam #Dakwah #PengembanDakwah #Dai #UmmatIslam

Kamis, 05 Oktober 2017

Tantangan Dakwah Zaman Now

Mengutip salah satu ceramah dari Ustadz Felix Siauw, beliau menjelaskan bahwa permasalahan umat Islam sekaligus tantangan dakwah baik di zaman Arab Jahiliyah maupun di Zaman Now adalah syirik. Bedanya, dahulu syirik jahiliyah, sekarang syirik kontemporer. Namun pada dasarnya keduanya sama-sama mencari 'selingkuhan' selain Allah.

Sebelum kita membahas syirik , kita membahas sedikit tafsir dari surat An-Naas terlebih dahulu. Dalam tiga ayat pertama surat An-Naas yang berlafadskan: Qul a'uudzu birobbinnaas (1) Malikinnaas (2) Ilaahinaas (3). Kita mendapati kata rabb, malik, dan ilaah yang ketiganya sebenarnya bermakna 'tuhan'. Namun bedanya adalah kata rabb bermakna pencipta dan pemelihara. Allah lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk manusia dan Allah lah yang memeliharanya. Sedangkan kata malik mengacu pada raja. Maksudnya adalah Allah dzat yang Maha Kuasa, raja dari segala raja. Terakhir kata ilaah bermakna Allah sebagai sesembahan. Allah adalah dzat yang seharusnya disembah, ditaa'ati perintahnya, dan satu-satunya Dzat yang semua makhluk beribadah padaNya. Yang menjadi fokus pembahasan kita kali ini adalah kata rabb dan ilaah

Masyarakat Arab Jahiliyah sebenarnya sudah mengenal Allah sebagai rabb. Buktinya sebelum Muhammad SAW diutus menjadi rasul, ayahnya bernama 'Abdullah' yang berarti 'hamba Allah'. Jauh sebelum Abdullah lahir, Nabi Ibrahim AS membangun ka'bah dengan nama lain 'baitullah' yang artinya 'rumah Allah'. Jika mereka ditanya "Man rabbuka?" (siapa tuhan/penciptamu?), mereka menjawab "rabbunAllah" (pencipta kami adalah Allah). Namun saat ditanya "Man ilaahuka" (siapa tuhan/sesembahanmu?), mereka menjawab "ilaahi al-latta wal manat wal uzza" (sesembahan kami adalah latta, manat, dan , uzza) yang ketiganya merupakan nama-nama berhala yang paling diagungkan di zaman Arab Jahiliyah. Sederhananya, masyarakat Arab Jahiliyah mengakui bahwa tuhan pencipta mereka adalah Allah, namun mereka cari 'selingkuhan' dengan menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan mereka.

Apa yang dimaksud dengan penyembahan selain kepada Allah?
Dari 'Adi bin Hathim RA, dia berkata, "Aku mendatangi Nabi SAW, sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas. 'Adi bin Hathim RA juga berkata, "Dan aku mendengar beliau SAW membaca surat at-Taubah ayat 31 yang artinya: Mereka (orang-orang yahudi dan nasrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah". Adi bin Hathim berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alim dan rahib-rahib mereka). Nabi SAW berkata, "Ya, akan tetapi mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan apa yang Allah halalkan, lalu para pengikutnya pun menghalalkannya. Dan mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan apa yang Allah halalkan, lalu mereka pun mengharamkannya. Itulah peribadahan mereka (para pengikut) kepada mereka (para pendeta)." (H.R. Tirmidzi & Baihaqi).

Dalam ayat di atas, jelas bahwa yang dimaksud dengan menyembah dan beribadah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas ritual peribadatan semata, namun beribadah dan menyembah mempunyai arti yang lebih luas. Beribadah dan menyembah berarti menaati seluruh perintah dan aturan suatu Dzat. Jelas bahwa Arab Jahiliyah telah syirik karena mereka melanggar aturan-aturan Allah. Mereka membuat aturan, sistem, nilai-norma sosial sendiri, dan mereka menaati aturan yang menyimpang tersebut. Masyarakat Arab sudah terbiasa dengan sistem sosial yang Jahiliyah. Bagaimana tidak, mereka menganggap wanita sebagai sebuah kehinaan dan tidak lebih mulia daripada binatang. Jika ada bayi perempuan yang lahir, maka haruslah dikubur hidup-hidup. Bila hendak menikahkan anak perempuannya, maka yang dilakukan adalah menyuruh para lelaki yang hendak menikahinya untuk menggauli perempuan tersebut hingga perempuan tersebut hamil. Setelah melahirkan, barulah dilihat anak yang lahir tersebut paling mirip dengan siapa. Maka lelaki yang menggauli perempuan tersebut yang wajahnya paling mirip dengan sang bayi, dia yang akan menikahi perempuannya.

Selain itu, semangat kesukuan dan kebanian begitu kental dan fanatis. Perang saudara terjadi di mana-mana. Senggol dikit bacok. Itulah sekiranya tabiat masyarakat Arab Jahiliyah. Mereka adalah orang-orang yang barbar, bersumbu pendek, dan menyelesaikan setiap permasalahan menggunakan pedang. Kemudian Islam datang dengan sebuah lafadz tauhid yang sangat jelas, "Laailaaha illallah, Muhammad rasulullah" yang berarti tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Allah tidaklah menjadikan syahadat pertama berlafadskan, "Laarabbun illallah" (tiada pencipta selain Allah), melainkan "Laailaaha illallah" (tiada sesembahan selain Allah). Artinya, saat Islam hadir dan masyarakat Arab Jahiliyah banyak yang masuk Islam, mereka taat dan patuh hanya pada Allah. Hanya Allah lah sesembahan mereka. Tiada yang dipatuhi dan ditaati kecuali Allah.

Penjelasan di atas adalah bagaimana syirik masa jahiliyah. Sekarang kita bahas terkait syirik kontemporer. Penampakkannya mungkin berbeda, dikemas dengan lebih cantik dan manipulatif, namun esensinya sama, mencari 'selingkungan' selain Allah, menjadikan sesuatu selain Allah sebagai ilaah, menaati dan mematuhi aturan selain yang telah Allah tetapkan. Contoh nyata adalah apakah kita pernah melihat seorang muslimah yang memakai tank top dan hot pants masuk masjid?  Tentu tidak. Jika ada, memang seberapa banyak? Muslimah yang memakai pakaian terbuka tersebut pasti merasa ia harus menutup aurat saat masuk masjid, setidaknya ia merasa harus berpakaian lebih sopan dan lebih tertutup. Ada sebuah kisah nyata, wanita mengenakan pakaian sekretaris super seksi lalu ia masuk masjid kemudian mengenakan mukena lalu menunaikan solat. Saat ditanya oleh wanita lain, "Mengapa saat solat ibu langsung menutup aurot?" , wanita berpakaian seksi tersebut menjawab, "Lah ini kah dalam masjid.. masjidkan rumah Allah!! mau kuwalat kamu masuk masjid gak nutup aurot?".. Ibu-ibu tersebut meyakini bahwa Allah mengawasinya saat dalam masjid dan menutup aurot adalah salah satu syarat sah solat. Namun mengapa ia membuka aurotnya saat keluar masjid?

Jawaban pertanyaan tersebut sama dengan jawaban-jawaban pertanyaan serupa seperti berikut ini: Mengapa ada orang yang tahu haramnya riba tapi masih bersentuhan dengan riba? Mengapa ada yang setelah solat maghrib langsung menonton video porno dengan dalih "gapapa nonton porno, kan tadi udah solat"? Mengapa ada hijabers yang masih melakukan maksiat dalam bingkai pacaran?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah "sekulerisme". Paham sekulerisme telah menjadikan umat Islam yang semulanya sebagai umat terbaik, pemimpin peradaban dunia menjadi umat pengekor dan terombang-ambing, bahkan umat lupa akan jati dirinya.

Paham sekulerisme adalah paham yang memisahkan agama dengan kehidupan. Dalam paradigma sekulerisme, agama diakui hanya saat dalam tempat ibadah, dalam tatanan individu, dan hanya mencakup ibadah ritual serta moralitas semata. Namun dalam tatanan sendi kehidupan seperti politik, ekonomi, hukum, pendidikan, dan pergaulan, agama tak diikut sertakan. Agama tidak digunakan dalam kehidupan praktis, melainkan hanya teori-teori filosofis tentang moral semata. Inilah yang disebut dengan syirik kontemporer. Kaum muslimin menganggap Allah adalah dzat tempat mereka beribadah, namun di luar peribadahan (di kehidupan) mereka mencari 'selingkuhan'. Mereka membuat aturan dan sistem nilai-norma sendiri yang banyak menyimpang dari aturan Allah. Contoh nyatanya adalah pelegalan minuman keras yang jelas-jelas diharamkan, juga menjadikan riba sebagai jantung perekonomian yang selain haram, nyata-nyatanya membuat hutang luar negeri Indonesia semakin menggunung. Di tataran masyarakat pun sama, contoh nyatanya seperti yang dipaparkan di pertanyaan-pertanyaan di paragraf sebelumnya.

Memang benar, dalam menyikapi seluruh fenomena dan problematika hidup, kita diwajibkan untuk menggunakan Islam sebagai solusi. Namun dalam tataran berdakwah, menyampaikan Islam kepada ummat zaman now, haruslah melibatkan seni. Seni berempati. Maksudnya, kita harus memahami kondisi umat, mengetahui apa yang sedang digandrungi umat, di mana umat sering 'nongkrong', dan pembawaan kita pun harus sebisa mungkin 'memasyarakat' agar dapat diterima dengan baik oleh umat. Misalnya saat kita menghadapi pecandu narkoba, kita tidak mungkin langsung menghampirinya dengan mengatakan bahwa narkoba itu haram dan penggunanya akan masuk neraka. Bukannya mereka menerima, namun malah mereka akan disrespect pada kita. Di situlah kita perlu berempati. Kita perlu tahu apa itu miras, apa itu narkoba, dan apa saja jenis-jenisnya. Pembawaan dan cara bicara kita pun sebisa mungkin harus sesuai dengan kepribadian pecandu narkoba tersebut.

Memang seni berempati tidaklah mudah dan itu adalah hal yang sangat mahal, namun hasil yang akan diperoleh sangatlah bermanfaat dan prosesnya pun terasa mengasyikkan. insyaAllah.

Demikianlah pandangan saya terhadap tantangan dakwah pada ummat zaman now, semoga bermanfa'at yaa kawan-kawan..

Wallahua'alam bishawab.

#Islam #Syahadat #Aqidah #Tauhid #Dakwah #Sekulerisme #Jahiliyah #Syariat 

Dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas. ‘Adi bin Hâtim juga berkata: “Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allah”. ‘Adi bin Hâtim berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, akan tetapi mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan apa yang Allâh haramkan, lalu merekapun menganggapnya halal. Dan mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan apa yang Allâh halalkan, lalu merekapun menganggapnya haram. Itulah peribadahan mereka (para pengikut) kepada mereka (para pendeta)”.

Dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas. ‘Adi bin Hâtim juga berkata: “Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allah”. ‘Adi bin Hâtim berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, akan tetapi mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan apa yang Allâh haramkan, lalu merekapun menganggapnya halal. Dan mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan apa yang Allâh halalkan, lalu merekapun menganggapnya haram. Itulah peribadahan mereka (para pengikut) kepada mereka (para pendeta)”.

Selasa, 15 Agustus 2017

Dear Para Orang Tua

Dear para orang tua,
Apakah kalian pernah merasa jengkel karena 'kenakalan' anak-anak kalian?
Ya, sering.
Apakah kalian pernah merasa lelah karena si kecil sukar sekali diatur?
Ya, sering

Apakah kalian pernah marah bahkan memukulnya karena perilakunya yang 'kurang baik'?
Apakah kalian pernah menghujat dan memaki kesalahan yang dibuatnya?
Saya harap dua pertanyaan terakhir jawabannya 'tidak'.

Ketahuilah, setiap anak itu istimewa. Every child is special.
Mereka seperti bintang yang jatuh ke bumid. Like stars on the earth.
Tinggal tugas kita menemukan sinar dari bintang tersebut
Sinar yang senantiasa terbinar
Terpancar oleh cahaya cinta dan kasih sayang orang tua.



 

Minggu, 06 Agustus 2017

Ikhlas

Sebuah 'skill' yg mungkin karena terlalu 'sederhana', membuat 'skill' tsb amat sulit dipelajari

Sesederhana surat Al-Ikhlas yang tak ada kata ikhlas namun maknanya memurnikan keesaan Allah

Perasaan ujub, riya, dan kemunafikan diri selalu jadi bayang-bayang.

Terkadang ridho Allah terganti oleh anggapan baik dari manusia dalam mensetting niat

Sungguh luar biasa seseorang yang hanya berharap ridho Allah

Setiap perbuatan adalah ungkapan terima kasih atas nikmatNya

Rasullullah Sholallahu'alaihi Wassalam diantara salah satu doanya ialah,

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)

YOLO vs YODO

Ada yang bilang "You Only Live Once"
hemm tapi ingat, "You Only Die Once & Then You'll Live Forever"

Yuk kita bersatu, wahai ummat terbaik?

#savealaqsa

Negara2 Eropa yang beragam mampu bersatu di bawah Uni Eropa. Bekerjasama dalam bidang ekonomi, pertahanan, dan jaminan keamanan warga negara di negara lain. Mata uang sama; masuk ke negara lain mudah, cukup menunjukka KTP;  Jika ada salah satu anggota yang diserang, NATO siap menurunkan tentara; bahkan ada parlemen bersama yang saling bertukar pendapat dan aspirasi.

Sedangkan negeri2 Muslim yang dahulu bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah terpecah menjadi negara2 kecil, terkurung oleh sekat2 nasionalisme, masih saling 'guntreng' satu sama lain, bahkan hanya menjadi pengekor peradaban Barat.

Mengapa negeri2 kaum Muslim tidak bisa bersatu? Kembali kepada fitrah dan 'habitat' aslinya. Menerapkan Islam secara kaaffah yang telah mengangkat derajat para pemeluknya terdahulu dari masyarakat jahiliyah menjadi sebuah peradaban agung. Andai saja bisa, maka tak perlu kita melihat pembantaian kaum Muslim minoritas dan penistaan tempat suci. Tak hanya itu, masalah multi-dimensional seperti kesenjangan sosial dan pelecehan sosial insyaAllah bisa teratasi.

Wallahu'alam bishawab

Solusi Untuk #savealaqsa

#savealaqsa menjadi trending topic dunia sekarang. Alhamdulillah ummat ini masih merasa geram saat tempat sucinya hendak dibumihanguskan oleh zionis dan marah saat aktivitas peribadatan di Masjid Al-Aqsa dipersekusi. Alhamdulillah ghirah keislaman yang insyaAllah berasal dari dorongan aqidah masih tertanam dalam diri ummat.

Mari kita bernostalgia, mengenang beberapa penggalan kisah manis saat ummat ini dahulu (masih) bersatu.

Jangankan pembantaian jutaan ummat muslim minoritas di pelbagai belahan dunia, kehormatan seorang muslimah yang jadi bahan olokan tentara Romawi di Amuria (sekarang Turki) membuat ummat sangat marah sehingga mengerahkan tentara yang hulunya di Amuria dan memanjang hingga ekornya berada di Baghdad.

Sekarang melihat Al-Liwa dan Ar-Royah yang bertuliskan lafadz Tauhid, tak sedikit ummat yang merasa takut bahkan fobia. Menisbatkan bendera dan panji Rasulullah SAW dengan simbol terorisme dan radikalisme. Padahal dahulu bendera dan panji tersebutlah yang membuat Mushab bin Umair memegangnya hingga syahid di medang perang walaupun kehilangan tangan dan kaki.

Dan adakah kita lupa bagaimana kelembutan Salahudin Al-Ayyubi saat memfutuhat Baitul Maqdis, membiarkan orang-orang non-Islam untuk hidup damai di bawah naungan Islam padahal saat tentara Salibis menaklukkan Baitul Maqdis, mereka membuat ummat muslim seperti hewan qurban yang disembelih.

Sungguh kita merindu zaman keemasan peradaban agung ini. Berdiri selama 13 abad. Wilayah terbentang dari Andalusia (sekarang Spnyaol) hingga Nusantara. Menjadi pemimpin peradaban dan mensejahterakan seluruh masyarakat di dalamnya.

Saat ummat paham akan jatidirinya. Syariat menjadi standar baik-buruk dan benar-salah dalam bertindak. Ridho Allah satu-satunya tujuan hidup.

Saat belum terkukung sekat-sekat nasionalisme dan menjadikan agaman ini sebagai ukhuwah pemersatu, pelebur segala perbedaan. Namun tetap hidup rukun dan penuh toleran dengan ummat beragama lain.

Tak ada habisnya mengingat masa-masa dahulu. Dahulu sekali dan mungkin hanya segelintir orang yang (mau) mengingatnya. Namun itulah bukti saat agama ini diterapkan dengan sempurna dalam semua sendiri kehidupan, maka Allah senantiasa menurunkan berkah dari langit.

Jangankan membebaskan Al-Aqsha, peradaban besar seperti Persia dan Romawi pun mampu kita taklukkan. Dengan syarat, kita bersatu, menjadikan Islam sebagai inspirasi kehidupan, dan menerapkannya secara paripurna.

Wallahu'alam bishawab

Keadilan Perjanjian Allah

Jika kekuasaan dan uang dapat membeli keadilan di dunia, lalu bagaimana kita menghadapi pengadilan Allah di yaumul hisab nanti yang bahkan anggota tubuh kita sendiri bersaksi dengan sejujur-jujurnya?

Terkadang

Terkadang lisan ini khilaf dalam bertutur
Terkadang hawa ini mengkhianati istiqomah hijrah
Terkadang syahwat ini menodai kesucian fitrahMu
Dan tentunya kemunafikan diri selalu jadi bayang-bayang setiap ucapan dan perbuatan
Namun jangan sampai hati terlena oleh nikmat sesaat dunia
Terpaut jauh ku dari jalan yang Engkau ridhoi
Tenggelam dalam fatamorgana hedonistik
Terlena oleh kenyamanan bersikap pragmatis
Sehingga mematikan keyakinan akan janjiMu dan bisyarah rasulMu
Melumpuhkan idealisme tuk tetap berjuang
Karena kemenangan hanya berjarak antara kening dan sajadah
Realisasi janjiMu hanya perlu dilihat dari pemaknaan yang lebih dalam
To see beyond the eyes can see

Kebebasan

"Saat manusia merasa dirinya bebas, itulah awal ia akan terjebak pada ketergantungan thd sesuatu. Dan akhirnya menyadari bahwa ia bukanlah jiwa yang bebas"

Senin, 24 Juli 2017

I see God in You

Terinspirasi oleh Film India favoritku
Dan berlandaskan syariatNya
InsyaAllah seperti itulah diriku hendak mencinta
Cinta yang membahagiakan dan dalam ketaatan padaNya

Ku jatuh cinta pada seorang gadis
Kata orang dia baik, sopan, dan solehah
Katanya juga dia childish dan polos
Tak sedikit pula yang bilang dia cantik dan lucu

Itu kata mereka
Namun bukan itu yang membuatku jatuh cinta
Bukan keindahan luar yang lekang oleh waktu
Ataupun inner beauty yang bisa saja berubah.

Namun sesederhana ku mencintai Tuhan
Ku merasakan kedamaian dan ketentraman hati
Tuhanlah Sang Maha Cinta
Tempat segala keindahan ada padaNya

Ku melihat Tuhan pada dirimu
Itulah perasaanku padamu
Tak mampu ku jelaskan
Yang pasti kau harus menjadi sepertiku dulu tuk rasakannya

Ku ingin bahagiakan engkau
Ku abdikan cintaku padamu
Kan ku halalkanmu
Menjadi imam, menuntunmu ke jannah

Ku ingin cintai engkau
Karena kecintaanku pada Tuhanku
Berikan bahagia yang terus mengalir
Seperti air pemberi sumber kehidupan

Minggu, 23 Juli 2017

Perbedaan Kebahagiaan dan Kesejahteraan

Menurut saya istilah "kebahagiaan" dan "kesejahteraan" adalah dua kata yang hampir sama dan saling beririsan baik dari segi makna kata, maupun konteksnya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan berarti, "kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin." Sedangkan kesejahteraan berarti, "hal atau keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketenteraman;- kesehatan jiwa; - keadaan sejahtera masyarakat. Dalam kedua pengertian di atas sama-sama mencakup aspek kesenangan batin. Yang berbeda adalah kebahagiaan lebih mengintegralkan kesenangan lahir dan batin serta dimulai dari diri sendiri. Di sisi lain, kesejahteraan lebih berfokus pada keamanan dan keselamatan yang merupakan kondisi yang bergantung dari lingkungan.

Jika ditinjau dari definisi menurut Oxford Dictionary, kita dapat menerjemahkan kata "kebahagiaan" dan "kesejahteraan" menjadi "happiness" dan "prosperity". Happyness berarti, "state of being happy" yang artinya "keadaan bahagia". Sementara makna bahagia (happy) berarti, "feeling or showing pleasure or contentment" yang berarti "merasakan atau menunjukkan kesenangan atau kepuasan". Sedangkan Prosperity berarti, "the state of being prosperous." yang berarti "keadaan sejahtera". Sementara makna sejahtera (prosperous) berarti, "berhasil dalam hal material; berkembang secara finansial." Dilihat dari definisinya, kebahagiaan bermakna lebih luas daripada kesejahteraan. Kebahagiaan (happyness) dimaknai sebagai kesenangan atau kepuasan secara umum, baik lahir maupun batin. Aspek kesenangan dan kepuasan pun sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri dan kebersyukuran seseorang. Sedangkan kesejahteraan (prosperity) lebih mengarah kepada hal materialistis dan finansial. Ini berarti untuk menjadi sejahtera, diperlukan stimulus eksternal (materi).

Dari dua perbandingan pengertian menurut KBBI dan Oxford Dictionary di atas, terdapat kesamaan definisi bahwa kebahagiaan lebih bersifat internal, mencakup aspek penerimaan diri dan kebersyukuran, serta mengintegralkan aspek lahiriah dan batin seseorang. Sementara kesejahteraan harus didapatkan melalui stimulus eksternal seperti keamanan, keselamatan, pemenuhan materi dan finansial.

Schimmel (2009) menjelaskan bahwa kebahagiaan merupakan penilaian individu terhadap keseluruhan kualitas hidupnya. Menurut Schimmel (2009), kebahagiaan terkadang juga disebut sebagai kesejahteraan subyektif (subjective well being). Sementara menurut Diener & Ryan (2009), kebahagiaan mengacu kepada emosi yang bersifat positif, sedangkan subjective well being mencakup emosi yang positif maupun negatif. Namun demikian kedua istilah tersebut menunjukkan penilaian individu terhadap kualitas hidupnya. Selanjutnya Diener dkk (1999), menyatakan bahwa kebahagiaan ataupun kesejahteraan subyektif dapat dilihat dari adanya emosi yang menyenangkan, emosi yang tidak menyenangkan, kepuasan hidup secara umum, dan kepuasan pada ranah tertentu. Dari berbagai teori tentang kebahagiaan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan merupakan penilaian seseorang akan kualitas hidupnya yang ditandai dengan adanya emosi yang menyenangkan dan rasa puas dengan kehidupannya.
aaan (Elfida, 2008). 

Menurut Al-Farabi (dalam Zahidah & Raihanah, 2011) kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan dan berperilaku sesuai dengan keyakinan. Hal ini dilakukan dengan cara jiwa yang terlepas dari tuntutan hawa nafsu, melaksanakan amanah dan janji, menunaikan tugas-tugas dengan sempurna, meninggalkan perkara yang diharamkan oleh Allah SWT. Demikian jiwa akan menjadi bahagia apabila seseorang melaksanakan semua perkara yang mulia dan menjauhi perkara yang dilarang (Zahidah & Raihanah, 2011). Kebahagiaan umumnya mengacu pada emosi positif yang dirasakan individu serta aktivitas positif yang disukai oleh indi- vidu (Seligman, 2005). Menurut Biswas, Di- ener dan Dean (2007) kebahagiaan berupa kualitas dari keseluruhan hidup manusia yang membuat kehidupan menjadi baik secara kes- eluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi, pendapatan yang leb- ih tinggi dan tempat kerja yang baik. Individu yang memiliki kebahagiaan tinggi akan merasakan bahwa pekerjaan, perkawinan, dan area lain di dalam kehidupan terasa memuaskan (Elfida, 2008). Demikian kebahagiaan itu sangat relatif antara satu dengan yang lain. Ukuran kebahagiaan sangat relatif antara individu yang satu dengan yang lain. Adakala individu menjadikan kecukupan materi sebagai ukuran kebahagiaan. 

 Bila saya boleh berpendapat, menurut saya kebahagiaan dan kesejahteraan gampang-gampang sulit untuk didefinisikan dan dibedakan. Kebahagiaan menurut saya adalah kondisi batin yang senang, puas akan kehidupannya, dan memiliki rasa syukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan. Kebahagiaan lebih bersifat internal pada diri seseorang dan sangat erat kaitannya dengan penerimaan diri dan rasa syukurnya pada Tuhan. Kebahagiaan dapat diperoleh tergantung dari persepsinya terhadap apa yang ia punya. Jika seseorang mampu mempersepsikan dunianya sebagai hal-hal yang membahagiakan dan menerima apa adanya dengan penuh kesyukuran, maka ia adalah orang bahagia. Sebagai contoh jika seorang yang berpenghasilan pas-pasan dan hidupnya terlilit hutang, ia tidak terlalu memusingkan kekurangannya. Ia akan berusaha melihat sisi baik hidupnya untuk disyukuri seperti misalnya anak-anak yang baik dan solehah, isteri yang setia menemani, dan mampu makan 3x sehari.

Sedangkan kesejahteraan lebih luas dan lebih kondisional maknanya daripada kebahagiaan. Kesejahteraan meliputi kondisi ekonomi yang mencukupi, kesehatan fisik, dan kepuasan hidup. Memang kepuasan hidup dan rasa syukur adalah bagian dari kesejahteraan. Namun haruslah didukung oleh kebutuhan materi yang terpenuhi. Jika tidak, seseorang hanya akan menjadi bahagia namun bukan sejahtera. Hal lain yang membedakan adalah jika bahagia sangat membutuhkan rasa syukur dan penerimaan diri yang dimulai dari diri sendiri, namun sejahtera tidak terlalu membutuhkan hal tersebut walaupun tetap membutuhkan, hanya saja kualitas syukur dan penerimaan diri yang tinggi tidak menjamin seseorang sejahtera. Aspek lain yang harus diperhatikan adalah kondisi sekitar orang tersebut apakah menjamin kebutuhan materinya terpenuhi, kondisinya aman tentram, dan jasmani serta orohaninya? Itulah yang harus dimiliki seseorang untuk sejahtera di samping rasa syukur.

Sabtu, 15 Juli 2017

Ku Ingin Mencintai

Ku ingin mencintai
Dengan penuh hasrat dan gairah
Romantis namun tidak melankolis
Penuh kegilaan tanpa kejaiman

Hanya Allah yang bisa menghakimi
Hanya syariatNya yang bisa menghukumi
Ku tak peduli keindahan menurut manusia
Ku hanya ingin merasakan indahnya cinta
Di bawah bingkai ketaatan pada Allah

Sungguh cinta yang penuh gairah
Didasari kecintaan tulus padaNya, itulah cinta

Ku ingin mencintai
Seorang calon ibu dari anak-anakku
Pendidik generasi pejuang kebangkitan Islam
Sang bidadari dunia akhirat
Pengingat saat khilaf, teman setia menuju jannah

Saat ku menemukanmu, ku datangi orang tuamu, wahai jodohku
Ku nikahimu, ucapkan janji suci untuk mengimamimu
Menggantikan ayahmu sebagai pelindung dan ibumu sebagai pengasih
Ku bertanggung jawab penuh atas segalanya darimu

Menikmati Lagu

Lagu. Bukan hanya alunan musik yang terdengar
Bukan sekadar melodi dengan syair
Lagu adalah curahan energi dan rasa terdalam

Saya bukanlah seorang yang terlalu paham soal Lagu
Saya hanya penikmat lagu
Menikmati setiap alunan nada
Ketukan instrumen dan merdunya suara membangkitkan perasaan terpendam
Sebuah perasaan yang seketika muncul saat mendengarnya

Lagu adalah bahasa universal
Tanpa perlu mengerti maksud leksikal lirik
Mendengar melodi dan cara bernyanyi pun kita sudah bisa merasakan
Merasakan perasaan yang memang bukan untuk dijelaskan
Cukup resapi, nikmati, dan tenggelam