Senin, 30 Oktober 2017

Penerapan 'Marshmellow Effect' dalam Berinvestasi Pahala (Part 1)

Pada tahun 1960an diadakan penelitian yang dipimpin oleh Walter Mischel, professor Psikologi dari Universitas Stanford, Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontrol diri (self-control) pada anak-anak usia dini terhadap sebuah godaan: akankah mereka bisa menahan godaan ataukan mereka tergoda dengan kenikmatan sesaat? Tak hanya itu, penelitian ini berusaha mencari korelasi antara self control pada masa kanak-kanak dan kesuksesan hidup saat dewasa.

Penelitian ini diikuti oleh 50 anak berusia 3-5 tahun yang ditempatkan ke dalam 50 ruangan terpisah. Dalam setiap ruangan,terpasang kamera tersembunyi dan anak-anak tersebut dihadapkan dengan sebuah marshmallow --sebuah godaan yang sulit untuk ditahan bagi anak-anak. Peneliti menekankan pada anak-anak bahwa tidak ada siapapun di ruangan ini kecuali peneliti dan anak itu sendiri. Lalu peneliti berkata "Marshmallow ini milikmu. Aku akan pergi selama 5-10 menit. Kamu punya dua pilihan: Kamu makan marshmallow ini langsung atau kamu menunggu saya kembali dan jika marshmallow-mu masih utuh, aku akan memberimu tambahan 2 marshmallow."

Peneliti membagi anak-anak ke dalam tiga kelompok berdasarkan respon perilaku dari anak-anak tersebut. Kelompok pertama terdiri dari 60% - 70% anak-anak yang menjadi partisipan. Anak-anak tersebut memakan marshmellow sebelum peneliti kembali. Kelompok kedua terdiri dari sekitar 20% anak-anak. Anak-anak tersebut berbuat 'curang'. Ada yang menjilati marshmallow lalu meletakkannya lagi. Ada yang mengambil sedikit bagian dari marshmallow kemudian memakannya. Saat peneliti kembali ke dalam ruangan, mereka berkata, "Aku belum menyentuhnya, berikan aku dua marshmallow lagi". Kelompok ketiga terdiri dari sekitar 8% - 10% anak-anak. Mereka tidak memakan bahkan menyentuh marshmallow dan mereka diberi hadiah dua marshmellow.

Kelompok pertama dinilai memiliki kontrol diri yang rendah. Mereka tidak tahan terhadap godaan. Mereka lebih milih untuk menikmati kenikmatan sesaat daripada 'bersusah-payah' menunggu untuk kenikmatan yang lebih besar di masa mendatang. Sedangkan kelompok kedua berbuat curang dengan memanfaatkan 'ketidak-adaan' siapapun dalam ruangan. Mereka berpikir tidak ada yang melihat mereka, maka tidak masalah jika mereka sedikit menikmati marshmallow, yang penting tidak ada yang tahu apa yang mereka perbuat. Dan pada akhirnya mereka mendapatkan 2 marshmallow tambahan. Kemudian kelompok ketiga adalah kelompok yang mempunya kontrol diri yang tinggi. Mereka bisa mengontrol diri mereka untuk menahan godaan yang ada. Mereka menyadari bahwa ada kenikmatan yang jauh lebih besar di masa mendatang daripada harus terlena dengan godaan berupa kenikmatan sesaat. Mereka hanya harus sedikit lebih bersabar.

Sekitar 40 tahun setelah penelitian ini dilakukan, peneliti ingin tahu bagaimana nasib para partisipan yang dahulu pernah mengikuti penelitian. Sebagian besar anak-anak dalam kelompok pertama bernasib kurang baik. Mereka seringkali berganti pekerjaan, karir akademiknya terhambat, pernikahan mereka berantakan: nikah-cerai, nikah-cerai. Diduga kontrol diri yang rendah saat kanak-kanak membuat mereka kurang tekun dalam berkerja keras dan lebih memilih gaya hidup hedonistik yang akhirnya membuat mereka sengsara.

Para partisipan dalam kelompok dua kebanyakan dari mereka memperoleh keunggulan pada saat awal-awal mencoba sesuatu. Namun saat sesuatu itu mereka tekuni untuk jangka waktu lama, performanya cenderung menurun. Hal ini diperkirakan karena perbuatan 'curang' semasa eksperimen dahulu. Kebanyakan dari mereka sering berlaku curang dalam berbagai bidang yang ditekuni. Saat bersekolah, mereka sering menyontek, dalam dunia kerja tak jarang mereka korupsi, dan dalam bermasyarakat mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan.

Namun hal berbeda tampak pada mayoritas anggota kelompok tiga. Kelompok yang dianggap memiliki kontrol diri paling tinggi dibanding kelompok yang lain dan diprediksi akan meraih kesuksesan dalam hidup. Mereka meraih kesuksesan dan kesejahteraan dalam hidup. Mereka sukses dalam karir pekerjaannya dan membangun keluarga yang bahagia. Hal ini dikarenakan mereka senantiasa memikirkan mengenai keberhasilan di masa depan harus dicapai dengan kerja keras di masa kini. Mengenyampingkan kenikmatan sesaat berarti mengupayakan untuk kesuksesan masa depan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar