Kamis, 05 Oktober 2017

Tantangan Dakwah Zaman Now

Mengutip salah satu ceramah dari Ustadz Felix Siauw, beliau menjelaskan bahwa permasalahan umat Islam sekaligus tantangan dakwah baik di zaman Arab Jahiliyah maupun di Zaman Now adalah syirik. Bedanya, dahulu syirik jahiliyah, sekarang syirik kontemporer. Namun pada dasarnya keduanya sama-sama mencari 'selingkuhan' selain Allah.

Sebelum kita membahas syirik , kita membahas sedikit tafsir dari surat An-Naas terlebih dahulu. Dalam tiga ayat pertama surat An-Naas yang berlafadskan: Qul a'uudzu birobbinnaas (1) Malikinnaas (2) Ilaahinaas (3). Kita mendapati kata rabb, malik, dan ilaah yang ketiganya sebenarnya bermakna 'tuhan'. Namun bedanya adalah kata rabb bermakna pencipta dan pemelihara. Allah lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk manusia dan Allah lah yang memeliharanya. Sedangkan kata malik mengacu pada raja. Maksudnya adalah Allah dzat yang Maha Kuasa, raja dari segala raja. Terakhir kata ilaah bermakna Allah sebagai sesembahan. Allah adalah dzat yang seharusnya disembah, ditaa'ati perintahnya, dan satu-satunya Dzat yang semua makhluk beribadah padaNya. Yang menjadi fokus pembahasan kita kali ini adalah kata rabb dan ilaah

Masyarakat Arab Jahiliyah sebenarnya sudah mengenal Allah sebagai rabb. Buktinya sebelum Muhammad SAW diutus menjadi rasul, ayahnya bernama 'Abdullah' yang berarti 'hamba Allah'. Jauh sebelum Abdullah lahir, Nabi Ibrahim AS membangun ka'bah dengan nama lain 'baitullah' yang artinya 'rumah Allah'. Jika mereka ditanya "Man rabbuka?" (siapa tuhan/penciptamu?), mereka menjawab "rabbunAllah" (pencipta kami adalah Allah). Namun saat ditanya "Man ilaahuka" (siapa tuhan/sesembahanmu?), mereka menjawab "ilaahi al-latta wal manat wal uzza" (sesembahan kami adalah latta, manat, dan , uzza) yang ketiganya merupakan nama-nama berhala yang paling diagungkan di zaman Arab Jahiliyah. Sederhananya, masyarakat Arab Jahiliyah mengakui bahwa tuhan pencipta mereka adalah Allah, namun mereka cari 'selingkuhan' dengan menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan mereka.

Apa yang dimaksud dengan penyembahan selain kepada Allah?
Dari 'Adi bin Hathim RA, dia berkata, "Aku mendatangi Nabi SAW, sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas. 'Adi bin Hathim RA juga berkata, "Dan aku mendengar beliau SAW membaca surat at-Taubah ayat 31 yang artinya: Mereka (orang-orang yahudi dan nasrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah". Adi bin Hathim berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alim dan rahib-rahib mereka). Nabi SAW berkata, "Ya, akan tetapi mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan apa yang Allah halalkan, lalu para pengikutnya pun menghalalkannya. Dan mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan apa yang Allah halalkan, lalu mereka pun mengharamkannya. Itulah peribadahan mereka (para pengikut) kepada mereka (para pendeta)." (H.R. Tirmidzi & Baihaqi).

Dalam ayat di atas, jelas bahwa yang dimaksud dengan menyembah dan beribadah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas ritual peribadatan semata, namun beribadah dan menyembah mempunyai arti yang lebih luas. Beribadah dan menyembah berarti menaati seluruh perintah dan aturan suatu Dzat. Jelas bahwa Arab Jahiliyah telah syirik karena mereka melanggar aturan-aturan Allah. Mereka membuat aturan, sistem, nilai-norma sosial sendiri, dan mereka menaati aturan yang menyimpang tersebut. Masyarakat Arab sudah terbiasa dengan sistem sosial yang Jahiliyah. Bagaimana tidak, mereka menganggap wanita sebagai sebuah kehinaan dan tidak lebih mulia daripada binatang. Jika ada bayi perempuan yang lahir, maka haruslah dikubur hidup-hidup. Bila hendak menikahkan anak perempuannya, maka yang dilakukan adalah menyuruh para lelaki yang hendak menikahinya untuk menggauli perempuan tersebut hingga perempuan tersebut hamil. Setelah melahirkan, barulah dilihat anak yang lahir tersebut paling mirip dengan siapa. Maka lelaki yang menggauli perempuan tersebut yang wajahnya paling mirip dengan sang bayi, dia yang akan menikahi perempuannya.

Selain itu, semangat kesukuan dan kebanian begitu kental dan fanatis. Perang saudara terjadi di mana-mana. Senggol dikit bacok. Itulah sekiranya tabiat masyarakat Arab Jahiliyah. Mereka adalah orang-orang yang barbar, bersumbu pendek, dan menyelesaikan setiap permasalahan menggunakan pedang. Kemudian Islam datang dengan sebuah lafadz tauhid yang sangat jelas, "Laailaaha illallah, Muhammad rasulullah" yang berarti tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Allah tidaklah menjadikan syahadat pertama berlafadskan, "Laarabbun illallah" (tiada pencipta selain Allah), melainkan "Laailaaha illallah" (tiada sesembahan selain Allah). Artinya, saat Islam hadir dan masyarakat Arab Jahiliyah banyak yang masuk Islam, mereka taat dan patuh hanya pada Allah. Hanya Allah lah sesembahan mereka. Tiada yang dipatuhi dan ditaati kecuali Allah.

Penjelasan di atas adalah bagaimana syirik masa jahiliyah. Sekarang kita bahas terkait syirik kontemporer. Penampakkannya mungkin berbeda, dikemas dengan lebih cantik dan manipulatif, namun esensinya sama, mencari 'selingkungan' selain Allah, menjadikan sesuatu selain Allah sebagai ilaah, menaati dan mematuhi aturan selain yang telah Allah tetapkan. Contoh nyata adalah apakah kita pernah melihat seorang muslimah yang memakai tank top dan hot pants masuk masjid?  Tentu tidak. Jika ada, memang seberapa banyak? Muslimah yang memakai pakaian terbuka tersebut pasti merasa ia harus menutup aurat saat masuk masjid, setidaknya ia merasa harus berpakaian lebih sopan dan lebih tertutup. Ada sebuah kisah nyata, wanita mengenakan pakaian sekretaris super seksi lalu ia masuk masjid kemudian mengenakan mukena lalu menunaikan solat. Saat ditanya oleh wanita lain, "Mengapa saat solat ibu langsung menutup aurot?" , wanita berpakaian seksi tersebut menjawab, "Lah ini kah dalam masjid.. masjidkan rumah Allah!! mau kuwalat kamu masuk masjid gak nutup aurot?".. Ibu-ibu tersebut meyakini bahwa Allah mengawasinya saat dalam masjid dan menutup aurot adalah salah satu syarat sah solat. Namun mengapa ia membuka aurotnya saat keluar masjid?

Jawaban pertanyaan tersebut sama dengan jawaban-jawaban pertanyaan serupa seperti berikut ini: Mengapa ada orang yang tahu haramnya riba tapi masih bersentuhan dengan riba? Mengapa ada yang setelah solat maghrib langsung menonton video porno dengan dalih "gapapa nonton porno, kan tadi udah solat"? Mengapa ada hijabers yang masih melakukan maksiat dalam bingkai pacaran?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah "sekulerisme". Paham sekulerisme telah menjadikan umat Islam yang semulanya sebagai umat terbaik, pemimpin peradaban dunia menjadi umat pengekor dan terombang-ambing, bahkan umat lupa akan jati dirinya.

Paham sekulerisme adalah paham yang memisahkan agama dengan kehidupan. Dalam paradigma sekulerisme, agama diakui hanya saat dalam tempat ibadah, dalam tatanan individu, dan hanya mencakup ibadah ritual serta moralitas semata. Namun dalam tatanan sendi kehidupan seperti politik, ekonomi, hukum, pendidikan, dan pergaulan, agama tak diikut sertakan. Agama tidak digunakan dalam kehidupan praktis, melainkan hanya teori-teori filosofis tentang moral semata. Inilah yang disebut dengan syirik kontemporer. Kaum muslimin menganggap Allah adalah dzat tempat mereka beribadah, namun di luar peribadahan (di kehidupan) mereka mencari 'selingkuhan'. Mereka membuat aturan dan sistem nilai-norma sendiri yang banyak menyimpang dari aturan Allah. Contoh nyatanya adalah pelegalan minuman keras yang jelas-jelas diharamkan, juga menjadikan riba sebagai jantung perekonomian yang selain haram, nyata-nyatanya membuat hutang luar negeri Indonesia semakin menggunung. Di tataran masyarakat pun sama, contoh nyatanya seperti yang dipaparkan di pertanyaan-pertanyaan di paragraf sebelumnya.

Memang benar, dalam menyikapi seluruh fenomena dan problematika hidup, kita diwajibkan untuk menggunakan Islam sebagai solusi. Namun dalam tataran berdakwah, menyampaikan Islam kepada ummat zaman now, haruslah melibatkan seni. Seni berempati. Maksudnya, kita harus memahami kondisi umat, mengetahui apa yang sedang digandrungi umat, di mana umat sering 'nongkrong', dan pembawaan kita pun harus sebisa mungkin 'memasyarakat' agar dapat diterima dengan baik oleh umat. Misalnya saat kita menghadapi pecandu narkoba, kita tidak mungkin langsung menghampirinya dengan mengatakan bahwa narkoba itu haram dan penggunanya akan masuk neraka. Bukannya mereka menerima, namun malah mereka akan disrespect pada kita. Di situlah kita perlu berempati. Kita perlu tahu apa itu miras, apa itu narkoba, dan apa saja jenis-jenisnya. Pembawaan dan cara bicara kita pun sebisa mungkin harus sesuai dengan kepribadian pecandu narkoba tersebut.

Memang seni berempati tidaklah mudah dan itu adalah hal yang sangat mahal, namun hasil yang akan diperoleh sangatlah bermanfaat dan prosesnya pun terasa mengasyikkan. insyaAllah.

Demikianlah pandangan saya terhadap tantangan dakwah pada ummat zaman now, semoga bermanfa'at yaa kawan-kawan..

Wallahua'alam bishawab.

#Islam #Syahadat #Aqidah #Tauhid #Dakwah #Sekulerisme #Jahiliyah #Syariat 

Dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas. ‘Adi bin Hâtim juga berkata: “Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allah”. ‘Adi bin Hâtim berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, akan tetapi mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan apa yang Allâh haramkan, lalu merekapun menganggapnya halal. Dan mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan apa yang Allâh halalkan, lalu merekapun menganggapnya haram. Itulah peribadahan mereka (para pengikut) kepada mereka (para pendeta)”.

Dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas. ‘Adi bin Hâtim juga berkata: “Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allah”. ‘Adi bin Hâtim berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, akan tetapi mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan apa yang Allâh haramkan, lalu merekapun menganggapnya halal. Dan mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan apa yang Allâh halalkan, lalu merekapun menganggapnya haram. Itulah peribadahan mereka (para pengikut) kepada mereka (para pendeta)”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar